Jumat, 27 Oktober 2017

#Hajj 2017 - Part 1

Alhamdulillah bulan lalu aku dapat kesempatan untuk jadi tamu Allah. Menjadi tamu Allah kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kalau biasanya aku pergi ke Tanah Haram untuk melakukan ibadah Umroh biasa, kali ini aku diberi kesempatan untuk melakukan Ibadah Rukun Islam kelima yaitu Berhaji.
Rasanya nggak berhenti mengucapkan syukur dan Alhamdulillah kepada Allah SWT. Karena atas ijin-Nya diusia yang masih di bilang nggak "terlalu tua" ini sudah bisa menunaikan ibadah tersebut. Kalau ada yang berasumsi semua karena adanya "materi" yang berlebih, rasanya kok kurang setuju yah. Karena sebenarnya ada banyak orang yang memiliki materi lebih tapi masih belum terbuka hatinya atau karena alasan lainnya untuk menunaikan ibadah ini. Dan nggak sedikit loh aku ngeliat beberapa orang yang bisa dibilang punya materi yang pas-pasan bahkan dibawah kata cukup namun bisa melakukan ibadah ini. Aku yakin, Allah punya cara yang unik untuk memanggil umatnya untuk pergi kerumah-Nya demi melakukan ibadah haji ini.

Karena travel yang aku ikutin ini berkantor pusat di Jakarta (NRA Tour & TRavel), mau nggak mau kami para jemaah dari Kalimantan Timur khususnya harus menginap semalam dulu di Jakarta.
Tanggal 24 Agustus tepatnya jam 10 waktu Arab Saudi akhirnya kami sampai juga di King Abdul Azis International Airport. Baru turun dari pesawat aja kami sudah di sambut dengan panasnya udara Arab Saudi malam itu. Dalam hati aku, "Gila, udah malam gini masih panas aja. Apakabar besok siang". Sebenarnya aku nggak kaget, karena memang sebelumnya udah di kasih tau sama panitia kalau suhu di sini itu bisa mencapai 50 derajat celcius. Cuman yah gitu, karena belum merasakan gimana rasanya suhu 50 derajat itu gimana, jadi yah sedikit kaget waktu udah nyampe disana.

Butuh waktu kurang lebih 9 jam untuk sampai ketahap keluar dari bandara dan meluncur ke Mekkah, waktu yang sama yang harus kita habiskan selama di dalam pesawat menuju Jeddah. Kami harus menunggu antrian imigrasi yang di panggil berdasarkan negara. Sambil menunggu imigrasi beberapa orang melanjutkan istirahatnya dengan duduk di kursi atau bahkan tidur di lantai bandara beralaskan kardus. Kalau dilihat seperti ini, bandara udah nggak keliatan kayak bandara deh. Aku pribadi karena sudah ngerasa puas banget tidur selama di pesawat, memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar bandara. Barangkali ada sesuatu yang bisa di beli dan di makan, karena makanan yang diberikan ketika di pesawat rasanya agak nggak masuk dilidah. Sampai di ujung sisi bandara ada sebuah spot yang menjual aneka minuman dan makanan ringan yang rame banget di kelilingi orang. Ternyata usut punya usut ramai karena pelayan dari tempat itu membagikan semua isi dagangannya secara gratis, tanpa terkecuali.

Sebenarnya di Arab Saudi khususnya di Mekkah dan Madinah, orang membagikan makanan atau minuman itu sudah biasa, apalagi kalau waktu-waktu puasa. Diwaktu puasa sunah seperti puasa senin kamis aja bisa diliat sana sini ketika saatnya berbuka puasa orang-orang satu sama lain membagikan makanan yang mereka miliki. Itu puasa sunah, apalagi kalau puasa wajib seperti puasa Ramadhan. Katanya makanan dan minuman itu tumpah ruah saat itu. Kalau hal ini mungkin sudah biasa dan nggak asing kita dengar. Tapi kalau kayak apa yang aku liat waktu dibandara bener-bener buat melongok, sangking kagum dan herannya aku sampai nggak kebagian snack Pringles yang jadi bahan rebutan orang, yah karena dalam hati sibuk bertanya-tanya, "Ini beneran gratis apa semua?!". Kata orang-orang sekitar, mereka memang seperti itu di musim haji, dan mereka justru senang kalau bisa membantu jemaah haji, karena bagi mereka itu merupakan pahala yang sangat besar. Andai aja di Indonesia juga begini :D.

Keluar dari antrian imigrasi kami masih harus mengambil koper kami masing-masing yang ternyata sudah keluar dari tadi dan disusun dengan rapi. Nyari koper saat itu susah susah susah gampang sih untuk aku dan adikku. Apalagi kami cuman berdua dan "cewek". Secara identitas koper kami bisa di bilang kurang begitu mencolok karena cuma di hiaskan pita biasa. Mataku sampai kunang-kunang ngeliat koper yang sama semua dan harus fokus nyari koper kami yang berpita warna merah, biru, kuning, dan putih. Tapi  untung ada anak temen mamaku yang bantuin buat nyariin dan ngangkatin koper kami. Selesai urusan koper kami masih harus nunggu antrian bus yang akan membawa kami ke Mekkah. Bus yang digunakan disini adalah bus yang disediakan dari pemerintah Arab Saudi, jadi busnya nggak sebagus bus yang biasa disewa oleh pihak travel. Kami baru menggunakan Bus yang disewa khusus jemaah travel nanti ketika sudah sampai di Mekkah dan seterusnya.

Alhamdulillah keluar dari areal bandara King Abdul Aziz lalu beranjak ke Mekkah nggak begitu lama dan memakan waktu yang bisa di bilang masih sewajarnya. Karena kalau biasanya, info dari pak ustad yang memberikan arahan ketika manasik kemarin. Bus yang menuju Mekkah akan sering berhenti untuk melakukan check point dan harus antri berjam-jam di setiap pemeriksaan. Syukurnya kami nggak mengalami kesusahan itu semua dan sampai di hotel transit kurang lebih 5 jam perjalanan.

Di hotel ini kami akan tinggal selama kurang lebih 6 hari, sampai tiba waktunya melakukan Tarwiyah. Nantinya setelah dari ukuf di Arafah dan Mina itu barulah kami semua akan tinggal di hotel yang sudah disediakan sesuai paket masing-masing. Agak kaget sih sebenarnya waktu liat Hotel Transit ini. Karena aku sama sekali nggak ngeliat adanya tanda-tanda bangunan tinggi Zam-Zam Tower yang menandakan tempat Mesjidil Haram yang memang sekarang sudah nggak bisa terlihat akibat bangunan-bangunan tinggi yang melindunginya. Ternyata hotel transit kami itu jaraknya lumayan jauh dari Mesjidil Haram, sekitar 12 Km. Bukan cuman aku yang kaget, jemaah yang lainnya pun sebagian besar merasakan hal sama. Tadinya kami berpikir kalau jarak yang di katakan "cukup jauh" dari Mesjidil Haram itu hanya sekitar 2 atau 3 kilo. Jadi, anggapan kami masih bisa lah yah di tempuh dengan jalan kaki jika ingin beribadah di Mesjidl Haram, dan ternyata boro-boro mau pergi ibadah di Mesjid, buat nyari taksi aja kadang kami kesusahan akibat kawasan hotel transit yang memang agak di pelosok ini. Yah kami semua nggak bisa berbuat apa-apa selain pasrah menerima apa yang sudah di atur oleh panitia. Walau sebenarnya sedih banget, udah di Mekkah nggak bisa solat di Mesjidil Haram. Kayak, kamu udah dekat banget tapi nggak di tembak-tembak sama gebetan. Hahaha


Hotel transit ini sendiri punya 5 lantai yang bisa di akses menggunakan lift. Aku sendiri dapat kamar di lantai 3 sekamar dengan 5 orang lainnya termasuk adikku. Alhamdulillah punya teman sekamar yang ramah dan lucu-lucu. Jadi udah kayak keluarga sendiri, apalagi semuanya ibu-ibu. Berasa emak' ku semua hehehe. Disini semua di samain, mau itu paket haji paling mahal atau paling murah semua sama, yang membedakan itu nanti ketika selesai ibadah haji. Itupun yang membedakannya hanya fasilitas hotelnya.
Karena semua diperlakukan sama di hotel ini, kami jadi lebih akrab nenangga kesana kemari. Aku lebih ngerasa kayak lagi di rumah susun (walau nggak pernah ngerasain rumah susun hahaha). Nenangga saling tukar cerita bahkan makanan, cucian, sampai cerita waktu lagi jemuran. Dari minusnya hotel yang jauh dari mesjid, ternyata masih ada positifnya. Disini lengkap disediain ember buat cucian sampai alat mandi. Makan juga alhamdulillah 3x sehari. Kopi, teh dan roti selalu ada, begitu pula dokter dan panitia, semuanya di sediakan 24 jam di lobby . Pokokknya saat itu tergantung kita gimana caranya membuat nyaman diri sendiri deh. Walau ada juga sih beberapa orang dari awal sampai akhir kerjaanya ngeluh, hehehe. Namanya juga manusia.

Selama di hotel ini kami melakukan ibadah secara berjamaah di ruangan yang sudah disediakan. Selain ibadah wajib seperti solat. Panitia juga sering melakukan pengajian dan ceramah. Ada plus minusnya sih kalau menurut aku. Minusnya karena itu tadi, rasanya sayang udah di Mekkah tp nggak full ibadah di mesjid. Plusnya, satu sama lain makin akrab, nggak ada bedanya antara si A dan si B. Semua membaur becanda bareng sampai nangis bareng ketika mengikuti ceramah.

Yang paling sering jadi masalah di hotel transit ini adalah masalah "Jemuran". Banyak banget masalah kalau udah menyangkut jemuran. Secara dari 600 jemaah lebih, tempat jemuran cuma 2 lantai dan itu pun nggak gitu-gitu luas di banding sama banyaknya jemuran yang ada. Saling gusur menggusur jemuran sampai salah ambil jemuran jadi masalah. Sangking seringnya orang-orang salah ambil jemuran, panitia mesti bolak balik ngungumin jemuran yang hilang atau jemuran tak bertuan. Untungnya suhu di sini panas banget, jadi 2 jam jemuran aja pakaian udah pada kering kayak kerupuk. Nggak bisa bayangin kalau cuacanya kayak di Indonesia yang nggak jelas kapan hujan kapan panasnya. Bisa-bisa pada nggak karuan aroma pakaian yang ada.
Sempat nanya ke panitia apakah ada londry di sekitar sini, jawabannya yah karena tempat kami ini lumayan di ujung jadi nggak ada. Jadilah hidup di hotel ini bener-bener kayak rumah susun hahaha.

Hari yang sama waktu kita sampai di hotel transit, malamnya sekitar jam 10 kita di bawa ke Mesjidil Harram untuk melakukan Tawaf Qudum atau Tawaf selamat datang. Kami sih lebih sering bilang "Umroh Pertama". Total jemaah NRA saat itu hampir 600 dan di bagi menjadi 15 bus. Masing-masing bus ada yang di isi dengan 1 ustad dan ada yang di isi dengan 2 ustad pembimbing. Biasanya untuk yang disediakan 2 ustad pembimbing salah satu dari mereka adalah orang-orang yang sudah tinggal di Arab Saudi dan mecari nafkah disini. Aku sendiri ada di Bus 9 yang semuanya orang Samarinda dengan pembimbing 2 ustad yang sama-sama orang Medan, cuma yang satu tinggal di Lombok yang satu tinggal di Arab. Namanya orang Medan yah sama kayak orang Bugis, suaranya kencang. Jadi kadang lucu juga kalau dua ustad ini sudah saling debat. Kita jemaahnya cuman bisa planga plongo sambil ketawa-ketawa ngeliatin tingkah mereka. Untungnya mereka juga sabar menghadapi kami jemaah bus 9 yang banyak maunya dan keseringan protes hahaha. Maaf yah Pak Ustad.

Malam itu suasana mesjid jauh banget lebih rame ketimbang waktu aku umroh sebelum-sebelumnya. Aku bisa liat lautan manusia yang memenuhi sekitaran Ka'bah untuk tawaf. Selain karena tahun ini merupakan tahun terbanyak jemaahnya sepanjang sejarah, malam itu juga semua jemaah yang akan melakukan ibadah haji bergerak memasuki Mekkah untuk bersiap melakukan rangkain rukun haji. Bayangin aja "semua jemaah" yang tadinya sebagian ada di Madinah, saat itu ngumpul jadi satu di Mekkah. Aku yang lagi tawaf aja ngerasa banget ketika tawaf kami tuh jalan sendiri ngikutin arus. Perjuangan banget harus desak desakan dengan "Pakde dan Bude" (panggilan kami untuk orang arab, turki, india, dll) yang badannya gede-gede. Aku bahkan harus beberapa kali nengok ke atas buat ngambil udara, karena jujur rasanya kayak rebutan udara dan aku ngerasa kekurangan udara hahaha. Untungnya aku nggak pingsan kayak salah satu jemaah yang memang usianya sudah tua.
Tapi sayangnya hal yang nggak menyenangkan terjadi disini. Seingatku waktu udah putaran ketiga perutku tiba-tiba keram nggak karuan. Semendadak itu ngerasainnya. Hati udah ketar ketir banget, jangan-jangan si tamu bulanan datang. Pikiran langsung nggak karuan. "Masa iya sih pas lagi ibadah gini baru datang, kemarin di tungguin nggak dateng-dateng", kepikiran dan akhirnya aku jadi nggak fokus sama ibadah. Tapi tetap meneguhkan hati kalau itu cuman perasaan karena capek dan yakin kalau cuman "perasaan" aja.

Aku memang sengaja nggak minum obat hormon yang katanya bisa menghentikan atau menghambat datangnya si tamu bulanan. Alasannya karena aku telat konsultasi ke dokter dan kata dokter sebaiknya aku nggak usah minum obat penghambat tamu bulanan itu, karena takut malah merusak jadwal yang sudah ada. Aku juga heran kenapa aku baru datang seminggu sebelum jadwalnya. Padahal aku sudah tau kalau mengkonsumsi obat seperti itu harus dua minggu sebelumnya. Tapi karena kemalasan dan memang sibuk untuk mempersiapkan acara walimatusafar kemaren, akhirnya baru terealisai untuk kedokter yah satu minggu sebelumnya. 

Selesai sa'i aku sempat nanya ke ustad soal masalah "perasaanku" yang aku sendiri nggak ngecek apa beneran si tamu datang atau nggak. Pak ustad menjawab "kalau ragu maka tinggalkanlah keraguan itu". Aku sih iya-iya aja sambil terus berdoa semoga apa yang aku rasaain itu hanya "perasaanku" aja. Sampai di hotel pas ngecek, ternyata apa yang aku rasakan itu bukan cuman sekedar perasaan!! Tapi memang si tamu beneran datang. Sedih banget!!! Aku bahkan sampai nangis sesegukan dalam kamar mandi. Untungnya ada keluarga-keluarga baruku yang nenangin sambil mendoakan semoga aku mendapat hikmah di balik ini semua.

Akhirnya setelah konsultasi sama ustad aku diberi waktu kalau-kalau si tamu bulanan bisa pergi sebelum jadwal kami Tarwiyah. Karena kalau pun nggak bisa, terpaksa aku harus merubah niat hajiku yang tadinya Tamattu, menjadi Qiron.  Bagi yang belum tau apa itu Haji Tamattu dan Haji Qiron, disini akan dijelaskan menurut salah satu situs yang aku baca.
  • Haji Qiran  Secara etimologi, kata Qiran bermakna menggabungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Dalam lingkup haji dan umrah, Qiran berarti melakukan ibadah haji dan umrah secara bersamaan. Ritual yang sama hanya perlu dilakukan sekali saja, terhitung sejak berihram.
    Ada dua kemungkinan terkait ihram bagi jemaah yang hendak melakukan haji Qiran. Pertama, ihram sebelum tawaf umrah. Jemaah harus terlebih dulu berihram haji sebelum melakukan ritual umrah sehingga ketika melakukan tawaf untuk umrah, ihramnya sudah mencakup haji dan umrah sekaligus.  Kedua, berihram sebelum rusaknya umrah. Jemaah yang datang ke Mekah dengan berihram umrah, maka sebelum selesai umrah yang dilakukan, ia harus menggabungkannya dengan haji.
    Jemaah yang melakukan haji qiran harus menjaga ihramnya hingga tahalul sesuai jadwal ritual ibadah haji. Selain itu, jemaah wajib menyembelih hewan kurban pada tanggal 10 Zulhijah atau hari-hari tasyrik. Jika tidak mampu menyembelih kurban, jemaah wajib menggantinya dengan berpuasa selama sepuluh hari (tiga hari dilakukan pada saat haji, utamanya sebelum wukuf di Arafah tanggl 9 Zulhijah dan tujuh hari lainnya dilakukan setelah kembali ke tempat asalnya).

  • Haji Tamattu Berbeda dengan haji Qiran, pelaksaan haji Tamattu’ memisahkan antara pelaksanaan haji dan umrah. Arti kata tamattu’ sendiri adalah bersenang-senang. Mengapa disebut dengan haji tamattu’?
    Sebab dalam pelaksanaannya, haji tamattu’ termasuk ringan dan lebih mudah dilakukan. Jemaah yang melakukan haji tamattu’ menyelesaikan dulu kegiatan umrahnya (sampai tahalul), lalu setibanya di Mekkah ia dapat melakukan apa pun (bersenang-senang) sembari menunggu datangnya hari Tarwiyah untuk melaksanakan haji.
    Sama seperti haji Qiran, jemaah haji Tamattu’ diwajibkan menyembelih hewan kurban atau menggantinya dengan berpuasa selama sepuluh hari bila tidak mampu. Jenis pelaksaan haji ini lebih banyak dilakukan jemaah karena praktiknya yang relatif lebih mudah.
Pengalaman selama mendapatkan tamu bulanan yang nggak bakal aku lupakan seumur hidupku itu yah disini. Aku mesti berihram sampai tiba waktunya aku melakukan umroh ulang atau sampai tiba selesainya rukun haji. Bayangkan aku mesti menjaga larangan ihram seperti tidur lengkap dengan jilbab atau mukenah plus kaos kaki. Mandi dengan "Nggak" menggunakan sabun, sampo atau pasta gigi. Rasanya bener-bener aneh. Aku mandi cuman pakai air trus handuk kecil yang di gosok-gosokan keseluruh tubuh. Untungnya Allah baik banget sama aku, cuman ngasih cobaan itu selama 3 hari. Karena di hari ke empat si tamu bulanan sudah pergi dan akhirnya aku bisa melakukan umroh ulang...


Diwaktu umroh ulang itu, ada pengalaman yang nggak akan aku lupakan dan mungkin bisa mengubah pola pikirku dalam menghadapi masalah. Malam itu ditemani ustad pembimbingku dan 2 orang teman sekamarku, kami melakukan tawaf bersama-sama. Kalau aku tawaf dengan niat menyempurnakan tawah yang sudah rusak kemarin, pak ustad dan temanku yang lainnya tawaf dengan niat sunah. Malam itu lebih padat lagi ketimbang malam sebelumnya, ketika umroh pertama. Tapi di dalam kepadatan itu aku dan yang lainnya, Alhamdulillah bisa masuk ke dalam Hijir Ismail. Sesuatu yang kalau dipikir dengan melihat kondisi yang ada sepertinya nggak mungkin dan pasti susah. Tapi malam itu bener-bener seperti kami dimudahkan masuk kedalam Hijir Ismail. Rasanya bersyukur luar biasa. Disitu aku perfikir, aku merasa salah sudah berfikiran negatif atas apa yang Allah kehendaki. Bayangkan kalau malam kemarin tamu bulanan itu nggak ada. Aku mungkin nggak akan berada di Hijir Ismail saat itu, aku nggak akan bisa berdoa di tempat yang mustajab itu. Dan memang benar, malam itu adalah satu-satunya malam aku bisa masuk dan puas berdoa di Hijir Ismail sampai aku dan lainnya meninggalkan kota Mekkah.

Dari kejadian itulah aku sekarang mulai berpikir dan mengubah pola pikirku jadi lebih positf terhadap sesuatu, bahwa apa yang aku dapatkan sekarang dan apa yang belum aku dapatkan sekarang merupakan jalan terbaik dari Allah SWT. Balik ke apa yang aku inginkan dan mungkin belum aku dapatkan, aku pun yakin di atas sana Allah SWT sudah menyiapkan sesuatu yang baik untukku. Kalaupun nantinya apa yang aku minta belum bisa aku dapatkan di dunia, aku yakin doa-doaku tersebut akan aku dapat kelak di akhirat nanti. Insya Allah Aamiin...

to be continued...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar