Minggu, 21 Januari 2018

Mengurangi Penggunaan Media Sosial #Curhat

Seperti postinganku membuka tahun 2018 kemaren, aku mengatakan bahwa salah satu resolusiku tahun ini adalah berusaha mengurangi penggunaan media sosial. Alasannya karena aku pengen lebih produktif dengan melakukan sesuatu dan tidak hanya terpaku dengan gadget.

Pernah berfikir dan menyadari nggak sih berapa jam yang kita habiskan ketika memegang gadget dan berjelajah di media sosial atau dunia maya itu? Sejam? Dua jam? Tiga jam? Pastinya lebih dari itu. Untuk sebagian orang, karena nggak sedikit juga kok yang dari dulu nggak tertarik dengan dunia maya. Yah tapi mungkin orang-orang seperti itu hanya 20% sampai 30% keberadaanya. Itu pun sebagian mungkin orang yang sudah tua dan nggak pengen repot. Contohnya bapak saya hahaha.

Ok. Balik ke topik awal. Selain karena lebih ingin produktif, alasan yang kedua dan paling besar adalah menghindarkan energi negatif menghampiri diriku. Apalagi dengan aku yang super Moody. Moodku gampang banget terpengaruh dengan sesuatu yang aku liat di media sosial.

Apalagi dengan keadaan sekarang, dimana berita hoax, berita sara, penipuan, pembunuhan, perselingkuhan, penculikan dan berita buruk lainnya menyebar dengan angka yang hampir menyaingi orang-orang yang berjual Alat Peninggi, Pemutih, Pelangsing dan lain-lainnya. Pooofffft.
Apalagi dengan pesan-pesan yang sekarang banyak tersebar dengan nada sedikit ancaman seperti, "Sebarkan jika ingin dosa-dosa anda gugur" atau "Kalau kau sayang dengan bla bla bla, maka sebarkan" atau lebih parah lagi "Dengan menyebarkan insya Allah pintu surga akan terbuka untukmu". Buset segampang itu yah sekarang masuk surga.

Itu baru berita-berita yang umum beredar di negara kita yang saat ini lagi sibuk dengan urusan Sara-nya. Belum lagi dengan orang-orang yang saling sindir di media sosial. Orang-orang yang meluapkan kekesalannya dengan mengumpat orang lain. Atau orang-orang yang mengumbar kesedihannya dengan sedikit berlebihan. Coba sekarang kita liat disekitar kita. Ada berapa orang yang bermusuhan atau berkelahi hanya karena saling sindir, saling debat di kolom komentar, saling bersaing-saing.

Karena alasan itulah aku mulai sedikit demi sedikit mengurangi penggunaan media sosial. Lebih kepada membersihkan hati. Karena sejujurnya akupun kadang merasa berdosa jika melihat postingan seseorang yang nggak sependapat denganku. Secara nggak sadar kadang dalam hati mengumpat atau malah meremehkan. Itu adalah hal yang benar-benar ingin aku hindari. Aku ngerasa dosaku sudah banyak, dan nggak pengen menambah hanya karena terbawa suasana media sosial saat ini.

***

Jujur, kemaren-kemaren aku banyak menyimpan seperti "kebencian" pada seseorang atau beberapa orang. Hanya karena apa yang dia perbuat dan dia share di media sosial nggak sama dengan apa yang aku suka. What the hell. Aku bahkan sudah se-freak itu dibuat oleh media sosial. Moodku tiba-tiba langsung berubah derastis dari yang bagus ke yang jelek. Padahal kalau dipikir dengan akal yang sehat. Itu urusan mereka, masing-masing orang berbeda-beda. Aku nggak bisa memaksakan seseorang berbuat sama dengan diriku.

Kemarin-kemarin aku sempat dibuat kesal dengan beberapa orang yang aku pikir sedikit banyak mengikuti apa yang aku perbuat. Risih. Jelas! Tapi kalau balik di pikir dengan benar. That's their business, not mine. Biarlah orang menilai. Dan kalau mau dipikir lagi aku yang terlalu "kepedean" diikutin.Dari situ aku ngerasa hati aku sudah sekotor itu dibuat media sosial yang aku ikutin. Aku nggak bisa berpikir realistis.

***

Masih banyak hal-hal yang bisa kita lakukan daripada hanya berdiam diri dan terpaku dalam dunia maya. Memang kita sebagai makhluk sosial dan harus bersosialisasi. Dan harusnya dengan adanya media sosial saat ini akan terasa lebih mudah. Tapi yang aku rasakan saat ini, media sosial yang ada bukan lagi tempat kita bersosialisasi dengan baik. Aku lebih merasakan dampak negatif dari pada positifnya.